Novel JIWA Aulia Tujuh

Aulia Tujuh

”APAKAH saya ikhlas dengan kehidupan saya sekarang?” Diwa bertanya pada dirinya sendiri. Pertanyaan sama yang pernah diajukan kepada dirinya sendiri saat hari ketujuh Abusyi meninggal. Sudah lebih dari satu jam ia termenung di teras depan Masjid Raya Baiturrahman. Ini dilakukannya untuk membungkam rasa suntuk setelah ia memutuskan tidak mengikuti Ospek hari kedua.

“Sulit untuk menjawab hal itu. Saya hanyalah seorang remaja yang masih dalam proses mencari arti kehidupan sebenarnya. Bukan Aulia Tujoh40.”

Diwa sadar. Ia juga bukanlah orang yang konsisten dengan apa yang dianggap benar dan bisa memberikan ketenangan bathin dan jiwa kepada dirinya sendiri. Hawa nafsunya masih terlalu besar dan dikuasai oleh angan-angan panjang. Takut akan masa depan. Suatu masalah merasuk hingga begitu jauh ke alam bawah sadarnya. Meski Diwa tau. Angan-angan panjang hanya akan merusak hati dan membuatnya tidak bisa menikmati apa yang dimiliki dan dijalaninya saat ini. Begitu pula dengan perasaan takut akan masa depan. Itu malah hanya akan merusak fondasi kehidupan yang telah dibangunnya. Tapi seakan begitu sulit untuk menterjemahkannya kedalam kehidupan sehari-hari.

“Masa depan! Seharusnya hanya perlu dirancang dan diwujudkan dengan langkah nyata. Bukan untuk ditakuti. Dan serahkan semuanya kepada Sang Khalik.”

“Menakuti masa depan adalah salah satu jalan menuju atheisme41.  Kita punya Tuhan. Dan Tuhan mengatur semuanya setelah kita merencanakan dan berikhtiar mewujudkannya. Tak ada yang perlu ditakuti.” Itu adalah kata-kata Abusyik yang selalu diingatnya.

Diwa kembali merenungi sisi kehidupannya. ”Apakah yang perlu saya takutkan? Toh, selama ini saya tidak pernah lapar. Tidak kedinginan di waktu malam hari. Dan punya keluarga tempat berbagi.”

“Lalu adakah yang perlu diresahkan? Apakah karena saya tidak punya uang berlimpah? Tidak punya fisik yang sempurna? Atau harus berjalan kaki ke sana kemari?”

“Akh, itu hanya karena kita terlalu memikirkannya. Membawanya ke saraf sensor. Hingga kemudian diterjemahkan oleh hati dan ditrensfer ke seluruh tubuh untuk dirasakan. Saat itulah kita merasakan ketidak ikhlasan atas apa yang kita jalani saat ini.”

Pandangan Diwa masih terus menjurus ke depan. Sesekali ia hanya melirik ke kiri dan ke kanan tanpa memperdulikan orang di sekelilingnya. Asyik dengan jalan pikirannya sendiri. Bunga yang “Melamun adalah salah satu jalan menuju penyucian diri. Seperti lamunannya sorang sufi di kegelapan malam yang menulis tentang kebaikan dan keburukan yang dikerjakannya hari itu….”

“Gadis ke…?!” Hati Diwa terkejut. Ia cepat-cepat menoleh. “Bunga?” Kata-kata yang diucapkan Bunga barusan adalah salah satu kalimat yang tertulis di diari miliknya dan sempat ditemukan Bunga. Kalimat yang sama yang juga dipilih dan pernah diucapkan gadis kecil asal Lam Meulo. Kalimat yang juga tertulis di diari Diwa sebelumnya. Diari yang kemudian diambil si penolong misterius saat ia pingsan ketika merenung di pematang sawah.

”Tapi kebanyakan melamun atau melamun tidak pada tempatnya hanya akan membuat jiwa menjadi lemah.” Bunga melanjutkan kalimat yang tadi terpotong. Persis seperti si gadis kecil. “Bang Diwa. Bang Diwa!”

“Sudah lama ya di sini, dek!” Tanpa sadar Diwa menyebut Bunga dengan kata ganti ‘dek’. Kata ganti yang biasanya akan terucap disaat Diwa merasakan ada getaran lain di hatinya. Mungkin ini sugesti dari si gadis kecil. “Tapi dimana gadis kecil itu sekarang? Akh, aku bahkan tak tau di mana itu Lam Meulo.”

“Dek?!” Bunga penasaran. Tapi raut wajahnya sama sekali tidak menyiratkan ketidaksenangan. Malah sebaliknya.

“Eh, maksudnya Bunga.” Diwa gelagapan.

“Nggak apa-apa kok. Bunga malah senang. Sudah lama nggak ada yang panggil Bunga dengan sebutan itu.”

“Emang dulu ada? Berarti Bunga sudah pernah gitu…?!”

“Bang Diwa jangan ngaco.” Kali ini Bunga sepertinya tidak senang.

“Maaf! Maaf! Abang nggak bermaksud apa-apa.” Kali ini giliran Diwa yang nampak tegang.

“Dulu hanya Ummi yang panggil dengan sebutan ini. Tapi Ummi telah meninggal.”

Diwa makin serba salah. “Innalillahi wa innailaihi rajiun. Maaf ya! Ngak seharusnya abang tadi begitu.” Bunga hanya diam. Sebutan abang dan adek yang keluar dari bibir Diwa punya arti mendalam bagi Bunga. Tapi ia tak ingin menerjemahkannya sendiri.

“Ummi meninggal saat Bunga berumur 12 tahun.”

“Ummi Bunga sakit?”

“Tertembak saat sedang berbelanja di Pasar Atjeh. Saat itu disamping Ummi ada Abu42  dan juga Bunga.”

Diwa tertunduk lesu. Seakan menyelami rasa perih yang dirasakan Bunga. ”Konflik memang tidak mengenal siapapun.”

Bunga hanya mengangguk. Ia masih belum ingin berspekulasi bersama Diwa tentang latarbelakang penembakan ibunya. Ia dan Diwa baru kenal. Biarlah Diwa dengan dugaannya. Nanti bila waktunya tiba semua pasti akan terjawab.

“Bang Diwa kok nggak ikut Ospek?“ tanya Bunga.

Diwa paham. Itu hanyalah usaha Bunga untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi biarlah. Asalkan suasana hatinya menjadi lebih baik. ”Ooo itu. Abang ada masalah kemarin di kampus.”

“Masalah apaan? Kok sampai ngak ikut Ospek?”

“Abang terlibat perkelahian dengan abang leting.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Abang diejek dengan kata-kata yang tidak mungkin abang hanya diam saja.”  Diwa lalu menceritakan kronologis kejadiannya.

Bunga kemudian malah ikut-ikutan emosi. ”Itu orang nggak punya perasaan banget. Bukan mental anak kuliahan kayak gitu. Tapi mental preman pasar.”

“Emang Bunga anak kuliahan?” Diwa mencoba berkelakar.

“Iii… abang ini. Sudah mulai pandai berekelakar ya. Bunga pikir bisanya hanya termenung aja.” Bunga juga terbawa memanggil abang ke Diwa.

Suasana diantara keduanya makin akrab. Diwa tak menyangka bisa berkenalan dengan perempuan secantik dan sebaik Bunga. Ia teringat pada Firman-Nya. “…nikmat mana lagi yang engkau ingkari.”43

“Masjid Raya44  nggak pernah sepi ya, bang?”

“Iya. Kan masjid kebanggan masyarakat Aceh.”

“Abang sering ya kemari?”

“Kalau perasaan lagi galau. Gelisah. Suntuk. Kesepian. Abang larinya kemari.”

“Sama dong.” Bunga ikut mengamini perkataan Diwa.

“Ikut-ikutan ya?!”

“Emang nggak boleh. Namanya aja masjid. Kan tempat mencari ketenangan dari kegundahan duniawi.” Bunga setengah marah. ”Kalau orang lagi ada masalah dan kemudian sudah nggak bisa tenang saat berada di rumah Allah. Apalagi yang punya sejarah seperti Masjid Raya. Itu baru masalah.”

“Iya. Ya. Jangan marah dong!”

Masjid terindah se-Asia Tenggara ini memang menjadi trad mark Kota Banda Aceh. Beragam aktivitas orang bisa ditemui di halaman dalam Masjid Raya. Tidak hanya sekedar beribadah. Banyak keluarga menjadikan masjid ini sebagai tempat wisata religi. Walau hanya sekedar duduk-duduk sambil bercengkerama di atas rumput nan hijau di depan masjid. Biasanya sore hari adalah saat paling ramai. Tapi bukan berarti di pagi hari tak ada orang. Banyak pendatang dari kampung yang baru saja tiba di Kota Banda Aceh biasanya telah datang ke mari sejak pagi hari. Ada juga kumpulan mahasiswi yang biasanya datang melepas penat bersama teman-temannya. Duduk dan ngobrol di teras utama masjid sepertinya lebih enjoy. Begitu pula sebagian ibu-ibu datang untuk melaksanakan salat sunnat hajat atau sekedar salat sunnat Tahiyyatul Masjid. Sementara bagi orangtua yang membawa anak-anak mereka ikut pula mengabadikan masa kecil anaknya dengan memanfaatkan jasa mat kodak alias fotografer amatir yang setia menawarkan jasanya. Sekali foto cukup 5 ribu perak. Tak lupa juga membasuh wajah anaknya dengan air kran di tempat wudhu. Atau malah memandikannya.

“Saya dulu punya hajat, kalau anak saya lulus UMPTN45, saya akan menunaikan salat sunnat Hajat dua rakaat di masjid ini.” Diwa dan Bunga secara jelas bisa mendengarkan ucapan ibu itu kepada beberapa teman sebayanya. Sepertinya juga datang dari kampung.

Bismilla hirrahma nirrahiim….46 Suara bacaan basmalaah yang kemudian diikuti dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran mulai terdengar. Pertanda sebentar lagi akan memasuki waktu salat Dhuhur. Itu artinya Diwa dan Bunga, serta seluruh umat muslim yang berada di dalam pekarangan masjid harus sudah bersiap-siap untuk menunaikan salat Dhuhur.

“Waktu salat sudah hampir tiba. Mohon menghentikan segala aktivitas dan segera mengambil wudhu. Jangan lagi ada yang duduk di teras maupun taman masjid.” Suara seorang Satpam dari alat  pengeras suara (microphone) terdengar jelas.

Belum lagi Diwa dan Bunga beranjak, seorang Satpam telah menghampiri mereka yang sedari tadi duduk di teras masjid. Meski agak berjauhan. “Ayo, dek! Jangan lagi duduk berduaan. Sudah cukup satu jam ngobrolnya.”

Diwa dan Bunga terkejut. Sepertinya ia telah memperhatikan mereka sedari tadi. “Iya, pak. Terima kasih.” Diwa mencoba untuk tetap bersikap sopan. Meski ia sangat tidak suka dimata-matai.

“Ntar habis salat tunggu di sini lagi ya, bang!” Bunga memberi aba-aba kepada Diwa.

Diwa hanya mengangguk dan memberi isyarat tanda setuju dari raut wajahnya. Sang Satpam malah terlihat cengiran. Diwa sebenarnya memaklumi dan sangat menghargai tugas Satpam tersebut.

***

TIDAK  adanya pembacaan doa47  dan shalawat Nabi48  yang dipimpin imam salat, sebagaimana umumnya dilakukan di masjid-masjid di Aceh membuat Diwa punya kesempatan lebih awal untuk berdzikir secara individual di dalam hati.

Dzikir yang setiap selesai salat selalu ia lantunkan.

Subhanallah

      Walhamdulillah  Walaa ilaa ha illallah

               Wallahu Akbar

“Allaahula ilaaha illa huwalhayyul qayyum….”

Ayat-ayat Kutrsi pun mulai mengalun dari bibirnya. Diwa ingat kata-kata Abusyik, membaca dzikir, plus ayat kutsi secara kusyu’, ikhlas,  dan rutin setiap habis salat akan membuat kita terjaga dari keburukan hidup di dunia dan akhirat.

***

DIWA diam-diam mencuri pandang ke arah shaf kaum perempuan. Dilihatnya Bunga masih salat dengan mukena putih bermotif bunga biru. Sepertinya ia menunaikan salat sunnat sesudah Dhuhur.

“Sungguh cantik. Menatapnya sama dengan meluruhkan segala gundah di hati. Menjadikan hidup seakan hidup kembali. Apakah ini yang dikatakan cinta karena Tuhan?”

Diwa menunggu di depan teras utama. Sesuai petunjuk Bunga sebelumnya. Tapi ia masih saja melongok ke belakang. Dilihatnya Bunga sedang merapikan mukena untuk dimasukkan ke tas khusus. Gadis berbola mata bulat ini beranjak.  Ia melirik ke arah teras utama. Keduanya beradu pandang. Diwa tak lagi dapat berpaling. Bunga hanya tersenyum kecil.

“Indahnya. Wewangiannya seperti dibawa terbang angin ke arahku. Wewangian seharum bunga kasturi.”

Diwa salah tingkah. Bunga malah berjalan santai ke arahnya.

“Oh ya, tadi Bunga lupa kasih tau Bang Diwa. Rencananya Bunga mau ke toko buku dulu. Bang Diwa gimana? Apa mau ikut?”

Diwa agak sungkan juga sebenarnya. Tapi dari pada hanya bengong di rumah, ia akhirnya mengiyakan juga. ”Ke toko buku mana?”

“Azzaheera. Yang di Plaza Suzuya.”

“Ooo, boleh dech.” Plaza Suzuya hanya berjarak sekitar 50 meter dari Masjid Raya Baiturrahman. Bunga memilih untuk berjalan kaki. Bagi Diwa sich tidak masalah. Ia sudah terbiasa berjalan kaki hingga 2 kilometer setiap harinya.

“Apa ntar nggak capek?” Diwa sepertinya menyindir Bunga. Diwa memang belum kenal Bunga luar dalam. Tapi ia yakin Bunga pasti anak orang berada secara materi dan kekuasaan.

“Biasa aja kok. Lagian dulu Bunga sering jalan-jalan sama teman-teman. Muter-muter Pasar Atjeh.”

Ini adalah kali pertama bagi Diwa dan juga Bunga berjalan beriringan. Diwa jelas terlihat agak grogi. Sementara Bunga terlihat lebih dapat mengontrol diri. Mungkin karena Diwa anak kampung dan Bunga anak kota, kali ya. ”Akh, alasannya ngak relevan.” Tapi sikap malu-malu dan grogi memang khasnya Diwa.

Menyusuri pertokoan, sebelum akhirnya sampai ke Plaza Suzuya membuat mereka menjadi langganan para pedagang. Tanpa bosan-bosannya mereka mengajak Diwa dan Bunga untuk mampir. “Piyoh hai. Peu jak mita. Mita bajei. Mita sipatu? Na nyoe pat. Get-get.” 49

Itu adalah kata sapaan yang akrab terdengar di telinga dan  sering  kali  diucapkan  para  pedagang. Penggunaan bahasa Aceh masih sangat kentara di ibukota Provinsi Aceh. Hanya sebagian kecil yang menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Terutama dipakai saat berkomunikasi dengan lawan bicara yang tidak bisa berbahasa Aceh.

Bunga dan Diwa akhirnya sampai juga di Plaza Suzuya. Mereka lalu menaiki eskalator menuju toko buku Azzaheera yang terdapat di lantai dua. Segerombolan remaja dan anak muda lainnya terlihat bergerombol di ruang lobi lantai dua yang berdekatan dengan eskalator. Sepertinya mereka memperhatikan Bunga dan Diwa.

Seorang diantara mereka dengan sertamerta berkomentar, “Ceweknya cantik. Cowoknya, lumayan sich. Tapi sayang, likip.” “Haaa. Haaa. Ha!” Temannya yang lain menyambut dengan gelak tawa.

Diwa memjamkan matanya. Menggigit giginya sendiri. Mencengkeram tangannya. Ingin rasanya membogem habis-habisan pemuda brengsek tadi. Bunga menangkap aura perlawanan dari wajah Diwa. Ia berusaha menghalangi jalannya. Beberapa pedagang ikut memperhatikan mereka.

“Sudah. Biarin aja mereka. Ayo!” Bunga menarik baju Diwa pada bagian bawah. Ia tak ingin menyentuh lengan Diwa. Takut nanti malah akan membangkitkan hawa nafsunya.

”Haaa. Haaa. Ha! Cemen!” Diwa kembali berbalik. Lagi-lagi Bunga menahannya.

”Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” 50

Konsentrasi Diwa masih buyar. Sesekali ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Bunga sepertinya ikut memperhatikan Diwa. Ia lalu memutuskan hanya mencari buku “Antologi Puisi” dan mengurungkan niatnya melihat-lihat buku lainnya.

“Ayo, Bang Diwa!”

Diwa seperti tak bertenaga hanya untuk sekedar menanyakan buku apa yang dibeli Bunga. ”Ini Bunga beli buku ‘Antologi Puisi’. Bagus-bagus isi puisinya. Bang Diwa suka juga kan baca puisi? Ntar Bunga pinjamin.”

Diwa masih tampak lesu. Ini adalah kali kedua ia harus mendengar ejekan dengan nada yang hampir sama selama tiga hari di Banda Aceh. Padahal saat mengurungkan niatnya untuk tidak ikut Ospek di hari kedua, Diwa berharap ia tak lagi mendengar ejekan itu.

“Kenapa ini terjadi?”

Bunga sepertinya menangkap kegetiran di hati Diwa.

“Bang Diwa jangan gitu dong. Percayalah! Ini hanya masalah waktu. Suatu saat orang-orang akan menghargai abang. Bukan karena sempurna atau tidak. Namun orang-orang akan melihat bagaimana abang menghargai diri abang sendiri dan berkiprah untuk kepentingan orang banyak.”

“Larut dalam persoalan seperti ini hanya akan membunuh kreatifitas dan potensi abang sendiri.”

Diwa makin penasaran dengan Bunga. “Kenapa gadis ini bisa belajar cukup bijak seperti ini. Apa dan siapa yang menempa ia? Kata-katanya begitu bijak.”

Mereka terus berjalan hingga ke tempat parkir tertutup Masjid Raya. Tempat dimana Bunga biasa memarkirkan sepeda motornya. Bunga lalu menyerahkan kunci dan karcis parkir ke Diwa. Plus uang 300 rupiah untuk membayar jasa parkir. Diwa menolak. Uangnya memang pas-pasan. Tapi tak ada niat didirinya untuk menerima belas kasihan Bunga hingga ke masalah uang jasa parkir.

Sepanjang perjalanan jiwa Diwa masih saja bergejolak. Tiba-tiba pikirannya seperti dirasuki oleh hal-hal yang menakutkan. Diwa mempercepat laju sepeda motor.

”Kok ngebut? Ada  apa, bang?” Bunga penasaran. Diwa yang dari tadi mengendarai kendaraan hanya dengan kecepatan 40 kilometer per jam tiba-tiba malah ngebut hingga kecepatan 80 kilometer per jam.

“Nggak….” Nafasnya ngos-ngosan.

“Nggak, apa-apa. Biar cepat sampai aja.” Diwa berusaha keras menenangkan diri.

“Ya Allah. Berikan aku kekuatan. Jangan sampai penyakit kelainan jiwa ini menghantuiku.”

Mereka akhirnya sampai juga ke rumah Diwa. ”Terima kasih ya, dek.”

“Iya. Sama-sama. Bang Diwa benar nggak apa-apa, kan?” Diwa hanya mengangguk. Berusaha menyembunyikan gejolak jiwanya.

“Ya, udah….” Bunga menahan nafas. Sepertinya ia ingin tau lebih. Tapi hal itu dipendam olehnya.

“Kalau begitu Bunga pamit dulu.”

“Hati-hati!”

Diwa bergegas masuk ke rumah. Berwudhu. Merebahkan tubuh di atas sajadah yang dihadiahkan Abusyik kepadanya dulu. Bibirnya komat-kamit memuji kebesaran-Nya. Diwa terlelap di atas sajadah pemberi cahaya.

“Ya Allah. Sudah Magrib. Saya belum salat Ashar.” Perasaan bersalah kini menghampiri Diwa.

“Aduh. Bagaimana ini?” Diwa terus menyalahkan diri sendiri.

“Saat kita tertidur itu artinya sedang tidak ’sadar’. Kalau tidak ’sadar’ (ibarat orang kurang waras) artinya tidak wajib salat.” Diwa bergumam sendiri.

“Tapi kan nggak seharusnya saya tidur tadi. Apalagi waktu salat Ashar hanya sekitar 15 menit lagi. Itu artinya saya yang salah.”

“Aduh! Ini sudah terjadi. Waktu juga nggak bisa diputar kembali. Sebaiknya sekarang saya salat Magrib dan memohon ampun kepada Allah.”

Diwa berusaha menghibur diri. Namun badannya belum juga fresh. Ia memang tidak terbiasa tidur siang. Apalagi tidur hingga waktu salat Magrib. Di waktu kecil badannya pernah demam hanya gara-gara tidur siang. Saat itulah Abusyik menasehatinya.

“Tidur di siang hari hingga berjam-jam tidak baik bagi kesehatan. Baiknya adalah istirahat siang dengan rentang waktu sekitar 20 menit sambil merebahkan tubuh. Tanpa mesti memejamkan mata.”

Abusyik juga bercerita tentang waktu istirahatnya Nabi. “Nabi biasanya beristirahat menjelang waktu salat Dhuhur.”

Begitu pula dengan tidur antara waktu salat Ashar hingga Magrib.” Dalam riwayat disebutkan itu ibarat tidurnya kaum Yahudi.”

***

“ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAH.” Diwa memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.

“Kenapa bawaannya lemas dan ingin tidur lagi, ya?!” Untuk kedua kalinya ia malah dikalahkan oleh keinginannya. Tanpa terlebih dahulu memenuhi apa yang dibutuhkan tubuhnya.

Sekitar pukul 01.00 tengah malam tiba-tiba Diwa kembali terbangun. Ia mimpi buruk. Dikejar-kejar kawanan mafia konflik yang acap kali mengirimnya surat-surat ber-cap jempol darah. Seketika badannya bergemetaran. Pikirannya kacau. Diwa dilanda rasa ketakutan mendalam. Seakan berada diambang sakaratul maut. Perut keroncongan menambah kegalauan jiwanya. Degub jantungnya semakin kencang.

“Penyakit kelainan jiwa itu.” Diwa meraba jantungnya.

Ia akhirnya memutuskan menuju Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin. Langkah kakinya masih gontai. Seakan tak kunjung sampai ke rumah sakit. Diwa mempercepat langkahnya. Ditengah degub jantung yang semakin kencang.

“Alhamdulillah!” Diwa mengucap syukur begitu tiba di pintu masuk rumah sakit. Kegalauan jiwanya sedikit teratasi. Ini adalah salah satu kekhasan penyakitnya.

Berada di dekat orang-orang tercinta. Masjid dan rumah sakit adalah tempat-tempat yang mebuat jiwanya lebih tenang.

Kenapa termasuk rumah sakit? “Setidaknya saya akan mendapatkan pertolongan darurat kalau ada hal buruk menimpa saya. Walau terkadang itu belum tentu.”

Diwa akhirnya mengurungkan niatnya menjumpai dokter jaga di Unit Gawat Darurat (UGD).

Ia bergegas menuju kios kecil yang masih buka. Mencari makanan pengganjal perut. Diwa lalu memilih menuju Masjid Ibnu Sina diantara ruang rawat inap pasien. Salat dan tidur di sana bersama anggota keluarga pasien. Diwa tidak berani pulang. Takut kalau penyakit kelainan jiwanya kembali kambuh.

***

“BANGUN. BANGUN! Sudah hampir waktu salat Shubuh.” Seisi ruangan yang tidur di Masjid Ibnu Sina terkejut. Tak terkecuali Diwa. Khadam51  masjid yang satu ini memang terkenal agak keras. Ia sudah siap mengumandangkan adzan. Hingga sampai pada kalimat: … Asshalatu khairum minan naum 52. Bagi Diwa kalimat ini juga membuktikan bahwa Islam merupakan agama dengan perencanaan yang teratur. Ajakan untuk bangun dan menunaikan salat Shubuh sungguh mulia. Sekaligus mengajak umat manusia untuk tidak tidur lagi di waktu pagi hari. Ini singkron dengan penelitian yang menyebutkan bahwa tidur di pagi hari hanya akan membuat sel-sel darah putih naik ke otak manusia. Ini tentu tidak baik bagi kesehatan.

“Ho geujak Teungku hana troh-troh.”53 

Diwa sempat mendengar ocehan sang khadam. Ia celingak-celinguk dari celah-celah jendala masjid.

“Soe yang jit deng keu imum?”54  Para jamaah yang umumnya tidur di masjid semalaman tak satupun menjawab.

“Gimana ini? Ya udah, kita salat sendiri-sendiri saja.” Ia makin ngak karuan.

“Tunggu, pak! Kalau boleh biar saya yang  jadi imam.” Diwa memberanikan diri. Ini kedengarannya memang agak sedikit aneh. Karena ia baru saja lulus MA dan berumur 19 tahun.

“Jit kah? Kamu kan masih anak-anak.”

“Kalau bapak-bapak mempercayakan saya, Insya Allah saya bisa bertanggungjawab.” Diwa tidak memperdulikan sebutan anak-anak dari sang khadam tadi.

“Gimana bapak-bapak?”

“Tarasa hana masalah tabi55  kepercayaan.”

“Iya, daripada salat sendiri-sendiri.” Para jamaah lainnya menjawab hampir bersamaan.

“Ok.” ia kemudian masuk ke sebuah ruangan di sebelah kanan tempat imam.

“Tolong pakai ini dulu biar lebih sopan. Sengaja disimpan. Tiap kali digunakan pasti dicuci.” Diwa mengambil sarung dan peci yang disodorkan sang khadam. Shubuh itu ia hanya berstelan kemeja dan celana ala para pendaki gunung. Dengan dua kantong besar di sisi kanan dan kiri.

Diwa memilih bacaan surah Ad-Duha pada rakaat pertama dan Al-Kafirun pada rakaat kedua. Sebagai pengikut Imam Syafe’i,56  Diwa juga tak lupa membaca qunut di rakaat kedua.

“Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggal), Dan demi malam apabila sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu57,  dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan58. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung59,  lalu Dia memberikan petunjuk, Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Maka, teradap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, jangan engkau menghardik (nya). Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersykur).”60  []

Postingan Terkait

untuk dibaca

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here