Novel JIWA Cahaya dari Cahaya-Nya

Cahaya dari Cahaya-Nya

“Sebagian dari cahaya hidup kita menentukan nasib orang lain. Sebagian dari cahaya hidup orang lain juga menentukan nasib kita. Sinarilah orang lain dengan cahaya dari Nur-Nya, bukan cahaya yang dimurkai oleh-Nya.”

HARI ini adalah hari pertama orientasi pengenalan kampus (Ospek). Itu artinya Diwa akan mengikuti acara pembukaan untuk tingkat perguruan tinggi yang diisi orientasi Rektor Universitas Syiah Kuala Profesor Dayan Dawood. Banyak orang berempati dengan sosok beliau. Profesor Dayan yang dikenal tak jual mahal untuk bergabung dalam berbagai acara kemahasiswaan. Bahkan sigap menjadi orator untuk panggung-panggung bebas mahasiswa yang menurutnya patut didukung. Apalagi sejak Aceh masih berstatus Daerah Operasi Militer (DOM)38, Profesor Dayan sudah mendesak pemerintah agar mencabut status itu dari provinsi ujung Barat Indonesia ini.

Diwa berusaha untuk datang lebih cepat. Ia tak ingin telat untuk hari pertama. Pukul 06.45 pagi. Diwa sudah siap dengan seragam celana hitam dan baju putih. Ia bergegas menuju halte bis. Ospek hari pertama akan dimulai pukul 08.00 tepat. Di halte sudah berjubel calon mahasiswa baru lainnya. Umumnya mereka bergerombolan atau minimal berdua. Rasanya hanya ia yang tanpa teman. Diwa seakan tersisih. Jiwanya kerdil.

Bis favorit mahasiswa, Robur, akhirnya datang juga. Tapi dari kejauhan bis terlihat oleng ke kiri. Sepertinya penuh sesak dengan mahasiswa yang bergelentungan di pintu. Bis Robur sendiri adalah jenis bus penumpang jarak jauh yang biasanya dipakai untuk angkutan antar kota antar provinsi. Cuma bis Robur, rakitan Mercedes Benz Jerman itu merupakan ’barang antik’ keluaran tahun 1970-an atau mungkin 1960-an.

Robur itu tak berhenti di halte tempat Diwa dan calon mahasiswa lainnya menunggu. Berlalu begitu saja. Di belakang Robur, sebuah bis Damri mulai terlihat. Rasanya masih bisa memuat calon penumpang. Walau tak lagi menyisakan tempat duduk. Ongkosnya memang lebih mahal 50 perak dari Robur.  Atau 150 rupiah sekali jalan. Rasanya tak ada pilihan lain kalau tak ingin telat. Daripada harus naik labi-labi dengan ongkos lebih mahal.

Diwa tiba di kampus Darussalam pukul 07.45 pagi. Mahasiswa baru sudah diarahkan ke lapangan tugu yang terletak di depan Biro Rektor Universitas Syiah Kuala. Disebut lapangan tugu karena di bagian depan lapangan lapang itu memang terdapat sebuah tugu.

Lapangan lapang itupun hanya dipagari tanaman pantai. Suaranya bersiul-siul saat angin berhembus. Begitu teduh. Banyak mahaiswa yang memilih duduk santai atau sekedar bercengkerama di bawah pohon itu sambil membaca buku. Pada tugu itu juga terdapat tandatangan dan tulisan Ir Soekarno, “Tekad Bulat melahirkan perbuatan nyata. Darussalam menuju pada pelaksanaan cita-cita.”

Bapak proklamasi sekaligus Presiden RI pertama itu datang pada tanggal 2 September 195939  untuk meresmikan Kopelma (Kota Pelajar Mahasiswa). Ditandai dengan pembukaan Fakultas Ekonomi sebagai cikal bakal Universitas Syiah Kuala.

Acara pembukaan Ospek untuk tingkat universitas ditutup menjelang salat Dhuhur. Para calon mahasiswa mulai dipisah berdasarkan fakultas. Diwa bergabung ke barisan Fakultas Teknik.

Di fakultas yang para mahasiswanya bangga dengan semboyan, ”Teknik Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” itu Diwa mulai menangkap aroma perayaan tak sedap.

Seorang mentor mulai memberi aba-aba usai diajarkan hormat ala Fakultas Teknik dengan gaya “Ayam Berkokok”. “Mana yang sakit? Ayo pisah!” Beberapa orang mulai menunjukkan tangan. Kebanyakan adalah perempuan. Beberapa mahasiswa tingkat atas yang ikut menonton Ospek mulai berteriak, “Yang sakit ayam sayur! Yang sakit ayam sayur!” Kedengarannya teriakan itu sungguh bernada ejekan.

Diwa tiba-tiba mengangkat tangan. Meski kurang pede, jiwa pemberontak terkadang muncul juga dari dirinya. Fisik Diwa sebenarnya tak bermasalah untuk mengikuti kerasnya Ospek di Fakultas Teknik. Begitu setidaknya yang ia sering dengar. Jumlah mereka yang menunjuk tangan dan menyatakan diri sakit ada sekitar 50-an. Langkah pertama yang dilakukan para mentor adalah membariskan mereka di depan para peserta Ospek lainnya. Sekitar 700 mahasiswa baru lainnya yang tidak masuk dalam barisan mahasiswa 50 mulai berteriak-teriak, ”Ayam sayur. Ayam sayur!”

Langkah itu diikuti beberapa mahasiswa senior lainnya. Mereka juga mulai mendatangani barisan mahasiswa 50 satu persatu dan mengatai, “Ayam sayur kau! Tak pantas kau menjadi mahasiswa Teknik!” Sambil menunjuk-nunjuk ke arah mata mereka. Hingga akhirnya tiba tepat di depan Diwa.

“Akh, kau lagi-kau lagi.” Diwa masih ingat. Mentor ini juga yang menyudutkannya saat pendaftaran Ospek dulu. ”Ayam sayur juga kau!” Kepalan tangannya mengarah ke arah Diwa. Ia paham. Itu hanya gertakan. Tapi Diwa tak lagi tinggal diam saat sang mentor seperti kehilangan kendali. Diwa telah mencengkeram erat tangan mentor itu sebelum tangannya sempat menjangkau kerah baju Diwa. Aksi berani Diwa dilihat mentor lainnya. Sekitar 20-an mentor kemudian berlarian ke arahnya. Namun seorang mentor senior melindungi Diwa. Sepertinya ia cukup disegani.

Diwa diajak ke salah satu sudut gedung Fakultas Teknik. “Kenapa tadi, dek? Saya yakin kamu ngak sakit kan?” Senior bertanya kepadanya.

“Saya ngak suka dengan sistem Ospek seperti ini, bang.”

“Ok. Saya paham. Abang sebenarnya juga kurang suka. Sudah lama abang ingin merubah pola Ospek balas dendam ini. Tapi barisan kita belum cukup kuat. Kalau pun abang langsung mengatakan pola Ospek ini harus diubah itu tak akan berdampak apa-apa. Abang malah akan dibenci sama mereka.” Diwa hanya diam saja.

“Sekarang kembali lah ke barisan!”

“Baik, bang.” Diwa beranjak kembali ke barisan 50. Tapi dari kejauhan ia melihat para mahasiswa barisan 50 mulai disuruh saling ucek ketiak oleh para mentor. Diwa urung. Ia malah berbalik dan berpura-pura sakir perut. “Saya ke toilet dulu, bang.” Diwa pamit pada mentor senior tadi.

Ia baru beranjak sesaat menjelang waktu salat Ashar. Itu artinya prosesi Ospek akan berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa muslim menunaikan salat.

Hanya tinggal lima langkah lagi Diwa telah sampai pada barisan 50. Tiba-tiba-tiba seseorang berteriak, “Hei mata likip ayam sayur!” Diwa berhenti. Menoleh ke samping. Mencari sumber suara tadi. Kerasnya suara ejekan itu membuat beberapa mahasiswa lainnya ikut menoleh. Air mata mulai menetes dari pelupuk matanya.

Diwa memang mempunyai keterbatasan fisik. Matanya yang sebelah kanan agak sipit bila dibandingkan dengan mata kirinya. Karena itupula ia kerapkali menjadi sasaran ejekan  dan cemoohan orang-orang jahil.

Tapi Diwa tidak ingin menyebutnya sebagai kecacatan. Seperti yang selalu ditulis di diarinya. “Tuhan tidak menciptakan seorang pun dari hamba-Nya dalam kesempurnaan.”

“Akh, bencong kau. Nangis kau!” Suara itu makin menjadi-jadi. Emosi Diwa akhirnya sampai juga ke ubun-ubun.

Diwa melangkah menuju ke arah suara itu dengan santai. Barisan mahasiswa yang telah membubarkan diri tak menyangka Diwa bakal membuat perhitungan dengan orang yang mengejeknya tadi. Ia berdiri tepat di depan mahasiswa itu tanpa berkata apa-apa. Berharap laki-laki itu meminta maaf kepadanya. Tapi Diwa malah diejek untuk kesekian kalinya.

“Hei! Ada ayam sayur mau nantang gue ni.” Logatnya sok Jakarta. Beberapa mahasiswa lainnya hanya cengiran. Sementara mentor senior yang tadi memanggil Diwa memperhatikan dari kejauhan. Ia sepertinya menyerahkan sepenuhnya ke Diwa untuk menyelesaikan persoalan itu.

Laki-laki itu mulai mengarahkan tinjunya ke arah Diwa. Secepat kilat tangan itu diraih Diwa dan memelintirnya ke belakang. Diwa juga menarik kancing baju kemejanya hingga leluasa mencopot baju itu dari badan pemiliknya. Medorong dan kemudian menyita baju tersebut. Segerombolan mahasiswa mulai berteriak. ”Huu ….” Diwa berbalik arah. Berusaha menjauh.

Geng mahasiswa yang mengejek Diwa berusaha mengejar. Sebagian mahasiswa lainnya yang mulai berempati pada Diwa berusaha menahan. Namun lelaki tadi sepertinya belum menyerah. “Ayo Ferdi! Kejar! Hajar!” Geng lelaki yang mengejek Diwa memanggil temannya itu dengan sebutan Ferdi. Mereka memprovokasinya untuk memberikan perlawanan.

Diwa yang belum begitu menjauh dikejar juga oleh Ferdi. Ia berbalik. Sementara kerumunan mahasiswa makin ramai dan mulai mendekat. Diwa agak ketir juga. Takut dikeroyok. Diwa baru merasa lega saat mentor senior yang sedari tadi memantau dari jauh mulai menyeruak dikeramaian. Ferdi lalu ditahan olehnya dan menyuruh Diwa pergi. Diwa melempar baju Ferdi ke atap tempat parkir. Mengambil tas miliknya. Beranjak pergi.

Tak ada orang lain yang memperdulikannya. Tidak juga pihak dekanan. Yang ada malah kerumunan mahasiswa yang kembali berteriak. ”Huuu.”

Tak jelas apa maksud dari sorakan itu. Mungkin awalnya mereka berharap ada pertunjukan perkelahian dan merasa kecewa karena urung terjadi. Mata Diwa berkaca-kaca. Pulang. Perih.[]

Postingan Terkait

untuk dibaca

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here