Hati

Oleh

Aku sangat suka pada pelajaran hati dari Ayah saat matahari mulai terbit setelah pergantian malam. Ayah bercerita bahwa hati itu punya fungsi, punya kandungan, punya sifat, baik dan buruk.

Kata Ayah, fungsi hati itu bisa ditutup rapat, diperluas atau dipersempit, bisa juga menolak sesuatu atau berpaling. Hati bisa mengingkari, juga bisa ditundukkan. Hati yang dengan sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu, hati bisa merasa kecewa dan kesal, berprasangka dan hati perlu diuji.

Ayah meletakkan tangan kananku di dada kiriku. “Hati itu ada di dada,” kata Ayah.

Ayah tidak ingin aku melepaskannya. Kata Ayah, kandungan hati mulai dari getaran, keimanan, kebaikan, cinta dan kasih sayang, kedamaian, keberanian, penyesalan, perasaan takut, keraguan, kekufuran, kesesatan, kedengkian, panas hati, kesombongan, kemunafikan, penyakit.

Ayah menyuruh aku mengingat nasibku sesudah mati. Di dadaku ada getaran, bertanya Tuhan akan menerima amalku atau tidak. Kata Ayah, ada di antara kandungan hati itu yang bisa diraba oleh anggota tubuh lainnya dari luar.

Sifat hati, kata Ayah, juga bermacam, bertaubat atau terkunci (oleh kebaikan), tenang karena percaya pada wahyu Tuhan, bersih, suci, menerima petunjuk Tuhan, condong pada kebaikan, takut bagi orang beragama, teguh.

Kata Ayah, itu adalah kebaikan dari sifat hati. Lawan dari itu adalah hati yang terkunci (oleh kesombongan), tersumbat, keras dan kasar, tersekat atau berdinding, kosong, sesak, sangat takut (karena kufur), lalai, terbakar.

Ayah mengingatkanku, saat nafas sudah dipengaruhi oleh beban pikiran, kita harus berhati-hati.

Penyakit hati itu, kata Ayah, berasal dari dua hal, hawa nafsu dan syaitan. Ia bisa disembuhkan dengan mengingat dan belajar melalui wahyu dari Tuhan, dekat dengan alam. Menjaga keintimannya dengan manusia dan manusia.

Akhir dari penjelasan Ayah ini sangat kumengerti. Aku hafal sifat hati Ayah soal takut bagi orang yang beragama. Hatiku ada dipertengahan, antara condong pada kebenaran dan merasa sesak.

***

Dayang-dayang Kerajaan Aceh datang menghiburku. Berkisah tentang hidup mereka. Aku tak memberi respon apa-apa. Terakhir seorang dayang bercerita tentang dirinya dan juga Meukuta Alam. Ia berasal dari Habsyi.

“Aku hanyalah seorang gundik hitam saat Meukuta Alam menikahiku untuk memperkokoh hubungan antara Kerajaan Aceh dengan orang-orang Habsyi,” tuturnya.

“Apakah engkau bahagia?” tanyaku.

“Kebahagiaan abadi hanya milik Tuhan,” jawabnya.

Aku juga mengimani itu. Disecarik kertas yang Ayah tulis untukku juga menyebutkan itu. Semua keabadian hanyalah milik Tuhan. Di dunia, manusia hanya dibekali kebahagian yang tak lebih besar dari biji zarrah. Itupun masih harus ditukar oleh panas hati atau penyesalan yang tidak diketahui kapan berakhir.

Tulang rusuk dari jenis perempuan yang kemudian melekat indah pada jenis laki-laki yang katanya awal untuk membentuk kepuasan batin, ada kalanya menekan tulang-tulang dada, sesak. Kenikmatan anggur duniawi yang dibeli dengan sekeping dinar pada nyatanya ikut membentuk pola ketakutan (kufur) di alam bawah sadar. Tapi manusia butuh agama agar kepingan kedamaian melekat kembali di hati.

***

1

2

3

4

5

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

GREAT

Niat Tayamum, Syarat, Tata Cara dan Rukun Merujuk Hadis...

Niat tayamum harus mengawali perbuatan tayamum. Artikel ini menjelaskan arti tayamum, syarat, tata cara dan rukun berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw.

Aulia Tujuh

Cahaya dari Cahaya-Nya

Inong