Novel JIWA Inong

Inong

Gampong Sagoe1, 22 Agustus 1999, pukul 06.00

SHUBUH PAGI ini begitu senyap.  Hanya terdengar rintik-rintik hujan yang menetes dari atap rumoh2 Aceh yang terbuat dari anyaman daun rumbia. Diwa masih menyiapkan perlengkapan untuk berangkat ke Banda Aceh di seramoe3 depan rumoh Aceh di Gampong Sagoe.

“Ka siap beurangkat, neuk?”4 Diwa menoleh. Ia menatap dalam-dalam perempuan yang telah mengandungnya selama sembilan bulan itu.

“Insya Allah, mak,” jawabnya. Diwa menyandang tas ransel. Mereka turun ke yup moh5. Bapak menyetop seudako mikrolet6.

Diwa menyalami kedua orangtuanya.

Memohon doa dari sang pendoa yang tak berhijab.

***

TERMINAL Kota Beureunuen tampak ramai diawal pekan penerimaan mahasiswa baru. Di hari-hari seperti ini awak bis biasanya berlagak bak seorang raja. Padahal hari-hari biasa mereka selalu berebutan mendekati dan membantu orang-orang dengan jinjingan tas besar. Walau sebenarnya belum tentu orang yang akan memanfaatkan jasa angkutan transportasi.

Tapi untuk kali ini calon penumpanglah yang harus berinisiatif mendekati awak bis. Itu kalau ingin  kebagian tiket keberangkatan. Banyak remaja sebaya Diwa juga akan merantau ke Banda Aceh. Mengadu nasib sebagai mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi. Berharap kelak pulang dengan titel sarjana.

Diwa sudah memegang tiket bis BE untuk keberangkatan pagi hari ini. Namun berbagai pertanyaan masih menyelimuti benaknya. Memikirkan bagaimana nantinya ia bisa berinteraksi dalam lingkungan pergaulan di kota besar. Atau bahkan menghadapi ejekan orang-orang. Dan, bagaimana dengan penyakit kelainan jiwanya?

“Dek! Jadi berangkat? Jangan termenung aja.” Suara awak bis yang ngetrend dengan sebutan BE di terminal Kota Beureunuen membuyarkan lamunannya.

“Jadi, bang.“

Tekad Diwa untuk merantau ke Banda Aceh sudah bulat. Sebagai seorang lulusan terbaik dari MA Sigli, ia masih menggantungkan segudang cita-cita. Itu belum lagi yang berasal dari kegelisahan-kegelisahan jiwanya.

Sepanjang perjalanan pikiran Diwa masih saja gelisah. Bertanya pada diri sendiri akan kemampuannya berinteraksi dengan lingkungan anak-anak Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. “Bagaimana kalau seandainya tidak berhasil?” Pikiran Diwa galau dengan sendirinya. Ia memang diterima sebagai salah satu mahasiswa baru di Fakultas Teknik.

“Termenung aja, bang?” Seseorang menyapa. Tapi Diwa masih terlalu asyik dengan lamunannya. ”Hei!” Orang yang menyapa Diwa memberi aba-aba dengan telapak tangannya. Persis di depan matanya.

Diwa tersentak. Kaget. Menoleh ke samping. Seorang gadis.

“Manis. Apalagi kerudung putihnya.” Diwa berbisik di dalam hati. Tapi ketidakpedean mengalahkan semuanya. Ia tetap tak berkata apa-apa.

“Mau dengar ini?” Gadis yang belum dikenalnya itu menyodorkan earphone-nya ke Diwa. “Ayo! Daripada asyik melamun. Lagunya enak.” Gadis yang menurut Diwa baru masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) itu kembali menawarkan budi baiknya.

Diwa sendiri tak melihat apakah earphone itu diputarkan dari walkman atau alat elektronik lainnya. Mungkin sang cewek menaruhnya di tas atau kantong bajunya. ”Ayo!” Gadis itu kembali menawarkan jasanya.

Pede sekali ia.”

Earphone itu akhirnya diambil juga oleh Diwa dan memasangnya di telinga kanan. Sebuah lagu mengalun dengan syahdu. ”Sebuah nasyid.”

“…Ku mencari-cari// teman yang sejati// untuk menemani// perjuangan ini…”

Diwa sendiri tak tau siapa penciptanya. Tapi yang jelas telah membuat hatinya menjadi lebih damai. Hingga ia tertidur dalam rentang waktu satu setengah jam.

Perjalanan telah sampai ke Saree. Berjubelnya pedagang asongan yang menjajakan keripik dan tape singkong hingga ke jendela-jendela bis membangunkan Diwa. earphone sang gadis berkerudung masih terpasang di telinganya. Ia gelagapan. Tas ransel yang sedari tadi dipangkunya terjatuh. Segera ia melepas earphone itu.

“Maaf. Maaf!” seru Diwa.

“Nggak apa-apa,” kata sang gadis sambil membetulkan duduknya. Melipat pangkal betis. Diwa bergeser agak ke kanan. Meletakkan tas ransel sebagai pembatas diantara keduanya.

Hingga bis kembali berjalan tak ada lagi percakapan diantara keduanya. Sesekali sang gadis melirik ke arah Diwa. Begitu juga sebaliknya. Tapi tak ada percakapan apapun hingga Diwa kembali tertidur.

Dua jam berikutnya perjalanan akhirnya sampai ke Terminal Bis BE di Beurawe Kota Banda Aceh. Semua penumpang bersiap turun. Termasuk Diwa. Ia hanya melirik sebentar ke arah sang gadis. Tersenyum. Kemudian pergi.

Hari ini seindah warna hatimu/ Bagaikan rembulan yang bersembunyi dibalik kerudung cinta/ Membelai daku hingga terlelap/ Terlena dalam syahdunya syairmu//

***

“ASSALAMU’ALAIKUM.” Suara seorang cewek yang memberi salam membuat Diwa terkejut. Bangun dari lamunannya. Hatinya bertanya-tanya siapa gerangan yang datang. “Kok suara perempuan?“ Ia makin penasaran. Diwa tak punya teman perempuan di kota yang dulu bernama Kutaradja33 ini.

“Itu bukan suara kakak.” Kak Azka. Kakaknya Diwa selama ini kuliah di Akademi Keperawatan Depkes R.I. Lokasi kampusnya bersebelahan dengan Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin. Ia diasramakan di sana.

“Wa’alaikumsalam.” Diwa membukakan pintu. Kain sarung masih melekat di pingganggnya. Dipadu kaus putih yang agak kumal. Ia baru hendak menunaikan salat Ashar. Diwa terpana. Seorang gadis cantik berjilbab putih telah datang ke rumahnya.

“Deg!” Jantungnya mulai berdebar.

Gadis itu datang sendiri. Sepertinya ia menggunakan sepeda motor (skuter) matic.

“Hei! Melamun lagi kan? Kebiasaan dech.”

Diwa tertegun. “Kamu yang di bis kemarin kan? Ada apa? Kok bisa tahu rumah saya.” Diwa makin penasaran aja.

“Ini punya kamu?”

“Kenapa buku itu bisa ada di tangan cewek ini?” Diwa masih saja bengong. Itu adalah buku diarinya. Buku kumpulan filosofi hidup yang ditulis sendiri oleh Diwa untuk menyemangati hari-harinya. Buku kedua setelah diari kusam pertamanya hilang. Biasanya isi buku itu terinspirasi dari kejadian-kejadian yang membuatnya senang atau sedih. Tidak hanya menulis ceritanya. Tapi menulis prosesnya. Filosofinya. Bukan sekedar euforia kesenangan atau kesedihan semata.

“Saya temukan ini di bis kemarin.” Gadis berbulu mata lentik ini menyodorkan buku itu ke Diwa. “Kebetulan di dalamnya ada alamat kamu. Termasuk alamat di Banda Aceh. Maaf, ya! Saya sudah ikut membaca isi buku itu.”

Diwa masih belum berkata apa-apa. Hingga gadis itu kembali melanjutkan kata-katanya. “Tapi menurut saya menginspirasi banget.”

“Terima kasih.” Akhirnya keluar juga kata-kata dari Diwa. Mereka hanya berbincang-bincang di depan rumah kost Diwa. ”Sekali lagi terima kasih sudah mau mengantar buku ini.”

“Nggak apa-apa, kok. Kebetulan saya lewat daerah sekitar ini.”

“Oh ya, nama abang siapa? Di bis kita kan nggak sempat kenalan,” tanya sang gadis sambil menyodorkan tangannya. Dilapisi jilbab.

“Diwa.”

“Bunga. Bunga Jeumpa Al-Asywaq.”  Gadis yang baik. Ia mengulang dua kali namanya.  Untuk nama penggilan dan nama lengkap sekaligus.

“Bunga Jeumpa kerinduan.”  ’Al-Asywaq’ memang memiliki arti kerinduan.  Diwa secara reflek menyebut arti dari nama Bunga. Bunga malah tersipu. Tapi ia akhirnya cepat-cepat pamit.

“Gadis yang cantik dan perhatian.” Pikir Diwa. Benih-benih kagum mulai tumbuh di dalam hatinya. Tapi bagian hati yang lain cepat-cepat menepisnya. ”Jangan berfikir yang enggak-enggak. Sadar-sadar!”

Diwa bergegas masuk untuk menunaikan ibadah salat Ashar. Jam menunjukkan pukul 04.30 sore. Di Banda Aceh, waktu salat Ashar biasanya dimulai sejak pukul 04.00 sore.

“Waduh! Air nggak ada.” Selama di tempat kost Diwa hanya mengandalkan air dari Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Daroy. Tapi kata kakaknya memang sering macet. Air sumur sungguh sangat tidak layak konsumsi. Berbau. Hitam pekat dan keruh. Tak ubahnya seperti air kubangan. ”Lebih baik ke Masjid Raya Baiturrahman34  saja. Di rumah juga nggak tahu harus berbuat apa.” Diwa akhirnya mulai menyusuri jalan setapak untuk memperpendek jarak tempuh. Apalagi kalau Diwa ingin naik Robur. Bis mahasiswa yang berhenti beroperasi sejak pukul 05.00 sore. Ongkosnya 100 rupiah sekali jalan.

Diwa sampai juga ke (pusat) kota. Untung saja tempat mangkalnya Robur di depan Sinbun Sibeureh tidak terlalu jauh dengan masjid yang terletak di pusat kota itu. Hanya 50 meter.

Belum lagi Diwa sampai ke masjid, ia kembali berpas-pasan dengan Bunga. ”Eh, Bang Diwa. Mau kemana?”

“Salat ke masjid. Di rumah ngak ada air.” Kali ini Diwa sudah mulai bisa mengontrol diri saat berhadapan dengan Bunga. ”Bunga sendiri ngapain?”

“Ini, lagi milih jepitan rambut. Bunga juga belum salat ni. Mau ditungguin?”

“Deg!” Jantung Diwa berdegub kencang. ”Booleh.”

“Ini jadinya berapa bang?”

Disepanjang Jalan Diponegoro. Jalan di pusat kota yang berdekatan dengan Masjid Raya Baiturrahman terdapat banyak pedagang kaki lima. Mereka menjajakan berbagai pernak-pernik kebutuhan perempuan. Mulai dari penjepit rambut, bros, tali pinggang, dan sejumlah pernak-pernik khas perempuan lainnya. Harganya juga jauh lebih murah bila dibandingkan dengan harga jual di toko.

“Seribu aja, dek.” Bunga menyodorkan uangnya.

Kekhasan lainnya di pusat kota Banda Aceh Aceh adalah penjual sirihnya. Biasanya yang berjualan Nyak-nyak35  dengan didampingi anak-anak gadisnya. Mereka mulai berjualan sejak sore hari selepas salat Ashar berjamaah. Menggelar dagangan di atas meja yang diatapi payung.

“Hei, Bang Diwa. Kebiasaan dech.” Lagi-lagi, Bunga menyadarkan Diwa.

“Suukaa yaaa sama cewek-cewek itu?” Bunga mulai ’menggoda’ Diwa. Tapi di dalam hati Bunga berkata, ”Bang Diwa ’digoda’. Ya pasti diam aja lah?!”

***

DULU sejak pemerintahan Hindia Belanda beragam transaksi ekonomi juga dilakukan disekitar halaman Masjid Raya. Sama seperti saat ini. Dimana disekeliling masjid menjadi pusat pertumbuhan ekonomi rakyat Aceh dengan tumbuhnya pasar-pasar tradisional dan modern. Pasar dengan pedagang multi etnis. Karena itupula tak ada penulisan ACEH khusus untuk kawasan perdagangan yang terletak disekeliling Masjid Raya Baiturrahman. Di pintu gerbangnya jelas tertulis ”PASAR ATJEH”. Penyebutan Atjeh sendiri sering diakronimkan dengan sebutan: Asia, Tionghoa, Jawa, Eropa, dan Hindia.

***

DIWA sudah kelar mengambil wudhu. Ia beranjak menuju ke dalam masjid. Bunga sudah menunggu di depan pintu masuk bagian tengah sebelah kanan.

“Bang Diwa, nanti tunggu aja di sini, ya! Mau kan pulang bareng Bunga?”

Ia sejenak berpikir. Basa-basi orang Aceh36. ”Boleh.”

Selesai salat Magrib Diwa sebenarnya masih ingin mengikuti pengajian. Tapi uang 300 rupiah untuk ongkos labi-labi akan sangat berarti baginya. Karena itulah ia memilih untuk menerima tawaran Bunga.

“Bunga pulang kemana?” Diwa mencoba mengawali pembicaraan ditengah perjalanan pulang.

“Darussalam. Bang Diwa baru ya di Banda Aceh?”

“Iya. Rencana mau kuliah di sini.”

“Jurusan apa?”

“Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala.”

“Hebat dong bisa lulus!”

“Nggak juga. Terima kasih.”

“Memang Bunga asli Banda Aceh?”

“Nggak. Orang tua sudah lama tinggal di sini.”

“Jadi, kemarin waktu jumpa di bis dari mana?”

“Ooo. Itu! Dari tempat Abusyik di Cumbok Lie.”

Mereka telah sampai di depan Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin. Diwa memperlambat laju kendaraan. “Saya sampai sini aja, ya.”

“Jangan! Langsung ke rumah aja.”

“Bunga kan perempuan. Nggak baik pulang malam-malam. Apalagi bila ada orang-orang usil.” Diwa mencoba untuk menunjukkan rasa perhatiannya ke Bunga.

“Nggak apa-apa. Sudah biasa kok.” Diwa akhirnya menurut juga. Hitung-hitung daripada capek jalan kaki hingga 300 meter. “Bunga langsung pulang, ya.”

“Hati-hati!” Diwa berusaha untuk lebih perhatian.

 ***

Keluhan hanya memunculkan musibah

Wahai jiwa yang fakir,

hindarilah ia dan tawakkallah

Jika engkau bermunajat kepada-Nya,

pasti engkau dapat

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah atas kuasa-Nya.

Tanpa Tuhan engkau akan tersesat dan cemas

Keluhan adalah musibah diatas musibah,

dosa di atas dosa dan derita

Jika engkau tersenyum dihadapan musibah,

musibah itu akan menjadi layu,

di bawah sinaran kebenaran,

ketika itulah dunia akan tersenyum,

senyuman yang tampak menyiratkan keyakinan,

senyuman yang lahir dengan pancaran keyakinan,

senyuman yang muncul dengan rahasia keyakinan.37[]

Postingan Terkait

untuk dibaca

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here