Aceh dan Hukum Cambuk di Mata Etnis Tionghoa

Oleh

Herman Fithra

Usianya kini menginjak 70 tahun. Kakek buyutnya telah datang ke wilayah paling Barat Sumatera ini sejak tahun 1910. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Dia tegas menyebut diri orang Aceh. Hanya saja ia keturunan Chinese (Tionghoa).

Baca juga: Kedatangan Orang Arab Abad 1 H di Aceh [Tashi] Dalam Catatan Tionghoa

Ia rajin menentang semua isu SARA yang berhembus. Apalagi isu-isu yang memperkeruh suasana tentang pemberlakuan syariat Islam di Aceh. “Tidak ada diskriminasi non-muslim di sini. Termasuk dalam soal pilihan hukum cambuk,” tegasnya.

Orang Aceh keturunan Chinese (Tionghoa) tidak pernah merasa terganggu dengan hukum jinayat (hukum cambuk di Aceh) yang juga berlaku untuk non-muslim.

“Tetapi bagi yang mau ya,” jelas ia, “Jangan salah mengartikan.”

Jika melanggar hukum, misalnya, maisir, warga non-muslim di Aceh bisa memilih hukum yang sesuai dengan KUHP atau hukum jinayat. Jadi, tidak ada paksaan. Aparat hukum di Aceh akan bertanya kepada pelanggar akan dihukum dengan hukum apa.

Ini adalah cerita Yuswar, seorang tokoh Budha Tionghoa yang tinggal di pecinannya Aceh. Peunayong. Berada di Pusat Kota Banda Aceh. Sebuah kawasan pertokoan yang berjejer toko-toko orderdil, aksesoris, perawatan mobil, dan juga handphone.

Hidup Nyaman di Aceh

Peunayong pernah mendapatkan penghargaan Harmony Award dari Kementerian Agama di tahun 2019.

Keturunan Tionghoa
Yuswar, 70 tahun, tokoh Chinese (Tionghoa) Aceh. (Foto: Kemenag.go.id)

“Banyak yang bertanya bagaimana kami dapat hidup dan beribadah dengan nyaman di Aceh. Padahal di sini berlaku hukum jinayat. Ini pujian dan membuat kami bangga karena bisa hidup layaknya di tengah-tengah keluarga sendiri,” sebutnya.

Yuswar mengatakan, ada beberapa suku Chinese (Tionghoa) yang tinggal di Aceh, seperti Hokkian, Hokka, Kanton, Tiochio, dan Hainan.

Editor Pick


Ia masih ingat saat-saat perumusan Qanun Hukum Jinayat pada masa awal pemberlakuan syariat Islam di Aceh. “Pemerintah juga mengundang kami pada saat pembahasannya,” tutur Yuswar.

Kawasan pecinan Peunayong sendiri dihuni oleh banyak komunitas agama. Terdapat beberapa masjid, gereja, vihara, dan bahkan kuil di wilayah ini.

“Kami tetap dapat dengan nyaman beribadah dan menjalani keseharian di sini. Walaupun ada aturan pemberlakuan hukum jinayat di Aceh,” tegas Yuswar.

Ia juga bercerita tentang kehalalan makanan.

Dulu ketika masa-masa darurat awal tsunami melanda Aceh akhir 2004, vihara pernah menjadi tempat penampungan barang-barang bantuan. Ia menyadari muslim Aceh membutuhkan makanan yang halal.

“Karena itu yang masak di sini (vihara) orang-orang muslim Aceh,” ujarnya.

Yuswar juga bercerita tentang vihara yang telah berdiri sejak tahun 1936 itu. Dulu hanya sebuah rumah singgah bagi warga Chinese (Tionghoa) yang datang ke Aceh.

*

Stigma negatif tentang kerukunan dan toleransi beragama di Aceh pernah dialami Ketut Panji Budiawan. “Orang-orang sekeliling saya khawatir. Katanya kenapa harus Aceh? Bagaimana nanti di sana? Banyak kekhawatiran dari orang sekeliling yang muncul,” cerita Ketut mengenang saat-saat awal ia mendapat penugasan ke Aceh.

Ternyata, lanjut Ketut, hal itu berbanding terbalik setelah saya berada di Aceh. Rasanya berada di kampung halaman sendiri. Suasananya damai seperti di Bali.

Ketut kini menjabat sebagai Pembimas Budha di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh.***

***Tulisan ini ditulis dan diedit berdasarkan tulisan aslinya yang terbit di website Kementerian Agama R.I.    

1

2

3

4

5

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

GREAT

Niat Tayamum, Syarat, Tata Cara dan Rukun Merujuk Hadis...

Niat tayamum harus mengawali perbuatan tayamum. Artikel ini menjelaskan arti tayamum, syarat, tata cara dan rukun berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw.

Aulia Tujuh

Cahaya dari Cahaya-Nya

Inong