SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

+

Nyanyian Sang Kekasih di Negeri Kaitetu

AKU
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu…
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

 

“Aku. Teungku Malem Diwa!”

“Antologi puisi Chairil Anwar.” Aku rasa ini buku antologi puisi yang paling populer di kalangan generasi muda Indonesia. Siapa yang tidak tau Chairil Anwar. Siapa yang tidak pernah membaca puisi “Aku” nya penyair era ‘45 itu. Sebuah era perjuangan. Era saat banyak rahasia belum tersingkap. Tapi, lihatlah Chairil Anwar. Buku antologi puisi ini. Ia menyingkap semua tabir tentang dirinya. Cita-cita dan angan-angannya. Meski kemudian ia meninggal dalam usia muda. Seperti Abu yang telah menyingkap semua tabir tentang dirinya kepadaku dan anak semata wayangnya. Bunga. Kekasih yang kini telah Tuhan halalkan dirinya bagiku.  Abu yang juga menyingkap tabir tentang diriku.

Setelah Abu sampai pada ketentuan-Nya. (Takdir Tuhan). Meninggal. Aku rasa tidak ada lagi yang bercerita tentang diriku. Akulah yang harus bercerita tentang diriku sendiri. Akulah yang harus menyingkap tabirku sendiri untuk mengenal dunia lain yang lebih luas. Seperti kata orang Aceh. Layaknya kata almarhum Abusyikku dulu kepada ibuku. Seperti ibuku katakan kepadaku, “Kenalilah dunia ini. Termasuk lat batat, kaye batei –nya. (Kenalilah dunia ini dari seluruh sisi kehidupannya). Belajarlah pada orang-orang yang sudah belajar dengan bijak.”

Hari ini. Aku dan Bunga telah berada di sini. Untuk belajar. Meresapi kata-kata ibuku itu. Menyingkap tabir kami. Agar generasi di belakang kami memperoleh cahaya-Nya. Seperti Firman-Nya di dalam surat Al-Anbiya: 107 yang artinya, “Tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.” Islam yang mendamaikan. Islam yang menentramkan. Secara teori dan secara praktik di lapangan.

“Abang suka Ambon?” Bunga membuyarkan lamunanku. Seperti biasa. Kami memang baru sampai di Kota Ambon. Aku memandang wajahnya. Kelegaan dan kebahagiaan kini menghampiriku.

“Ambon? Kenapa tidak?! Bunga ingatkan tentang kerajaan Ternate dan Tidore?” Aku berusaha memancing Bunga. Memasang wajah serius.

“Sedikit. Saat dulu belajar sejarah di SMP dan SMA.” Bunga menunduk. Seperti berusaha mengingat latarbelakang lahirnya kedua kerajaan kembar Islam di tanah Maluku ini.

Tapi aku cepat-cepat memotong. “Menurut abang, kita bisa belajar banyak di sini. Bulan madu yang mengge… taaarkan….” Aku menggelitik Bunga. Kedua siku lengannya yang sedari tadi disandarkan pada jendela kamar hotel murahan yang kami sewa terjatuh. “Serius banget?” “Heee. He!”

“Abaaang?!” Ia berusaha membalas. Aku menghindar. Wajahnya merona kemerah-kemerahan. Seperti “Humaira”. [Perempuan (kemerah-merahan)]. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia meronta. Dalam bahasa yang merajuk. “Abang ini bikin kita tegang aja. Bunga pikir, kita akan selalu mengisi waktu dengan diskusi serius.”

“Akh, itu Bunga kali.” Ia berusaha mengejarku. Tapi, aku rasa sekarang waktunya belum tepat. Masih banyak yang harus kami belajar dan kami diskusikan di sini. Di kota yang kini damai. Tentram. Setelah pertikaian yang menurut kami tidak seorangpun dari warga Ambon sebenarnya menginginkan hal itu. Mungkin saja itu hanya kealpaan warga saja. Kealpaan akibat provokasi mafia konflik. Kealpaan yang kemudian dituntaskan dengan perjanjian Malino pada tanggal 12 Februari 2002.

Saat kami tiba di sini, kerusuhan lain yang tidak terkait dengan warga memang baru saja terjadi. Kerusuhan yang bertepatan dengan perayaan HUT RMS, 24 April. Aku dan Bunga memang sempat was-was. Tapi, ini sudah menjadi tekad kami. Belajar pada orang yang sudah belajar untuk bijak. Kami melihat Bandar Udara Pattimura yang mulai bersolek. Bahkan kami bisa menikmati pemandangan laut lepas dan pantai yang indah dalam perjalanan dari Bandar Udara Pattimura ke Kota Ambon yang berjarak sekitar 50 kilometer. Kami juga melihat Kota Ambon yang mulai berbenah. Soal RMS, aku memang mendengar isu pernah terjalin persekutuan antara RMS dengan GAM. Tapi, aku tidak pernah mendapatkan bukti-bukti autentik tentang itu. Bilapun ada, aku cuma bisa berharap, persekutuan itu adalah untuk mempercepat lahirnya perdamaian di kedua daerah ini. Perdamaian yang dipayungi keadilan, persamaan hak dan kewajiban, dan saling menghargai. Hormat menghormati.

“Abang mandi dulu!” Aku menyambar handuk.

“Awas, ya!” Bunga sedikit mengeraskan suaranya. Dari luar kamar mandi.

*

ESOK harinya…

“Kita kemana, bang?” Bunga bertanya padaku. Kami sudah mempersiapkan segala keperluan untuk perjalanan hari ini.  Bunga mempersiapkan perlengkapan makan dan minum. Kami memang berusaha untuk berhemat. Dalam pikiran kami makanan dan minuman di tempat-tempat wisata biasanya lebih mahal. Bisanya memang selalu begitu. Tidak di Aceh. Tidak juga di Singapura.  Makanya kami lebih memilih membawa bekal sendiri. Aku mempersiapkan segala sesuatu yang mendukung profesiku sebagai jurnalis. Buku notes berlogo media tempatku bekerja, pulpen, tape recorder, dan kamera. Aku tidak lupa membawa kartu pers. Kartu yang mungkin akan sangat berguna disaat-saat tertentu.

Aku masih memegang peta wisata Maluku. Mencari-cari tempat yang cocok dikunjungi untuk hari pertama ini. Kami tidak menggunakan tour guide. Karena itu juga akan menguras kantong lebih dalam. Kami hanya mengandalkan peta wisata dan bertanya pada penduduk lokal.

Bunga menghampiriku. Memegang pundakku dengan lembut. Aku sejenak menatap wajahnya. Ia menebarkan senyumannya ke arahku. Aku ikut tersenyum. Ia menggigit bibirnya. Aku akhirnya menunjuk ke suatu tempat. “Bagaimana kalau hari ini kita ke Masjid Wapauwe?”  Ada penjelasan singkat tentang masjid itu di peta yang kami pegang. Masjid ini disebut-sebut sebagai masjid tertua di Indonesia. Letaknya di Negeri (Desa) Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

“Jauh dong, bang?” tanya Bunga.

“Kalau menurut peta ini, setidaknya satu jam perjalanan.” Aku melirik jam di lenganku. Pukul 07.00 Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT). Begitu tiba di Ambon, aku memang sudah menyetel jam tanganku berdasarkan standar WIT. Atau lebih cepat 2 jam dari Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB).

“Boleh. Lagian ini kan juga masih pagi. Menurut Bunga, juga lebih bagus kalau hari pertama kita ke tempat wisata religi. Tapi, abang nggak disibukkan dengan deadline laporan liputan kan?”

“Nggak. Abang pikir nanti abang juga bisa buat liputan tentang Masjid Lapauwe.”

“Ayo, kalau gitu.”

Kami berangkat dengan menumpang bis angkutan umum setelah bertanya pada penduduk lokal. Di bis, aku bisa merasakan sekelompok pemuda memperhatikan kami. Mereka mencuri-curi pandang ke arahku dan Bunga. Melirik ke arah kamera SLR yang aku pegang. Sesekali berbisik diantara sesamanya. Aku berusaha tenang. Rileks. Mengambil beberapa foto dari balik jendela kaca bis. Disela-sela membidik objek foto, aku melirik ke arah mereka. Mereka masih memperhatikan kami. Aku menarik nafas dalam-dalam. Menahannya sekuat aku bisa. Lalu membuangnya secara perlahan. Teknik menenangkan diri dari rasa panik. Aku takut bisikan-bisikan yang membuat aku tidak nyaman. Bisikan yang dekat ke sakaratul maut itu muncul. Apalagi tidak ada penumpang lain di bis. Bunga tidak memperhatikan mereka. Ia sepertinya menikmati pemandangan alam sekitar dan lagu-lagu yang diputar melalui MP3-nya. Ia sesekali memandang ke arahku. Menebar senyum. Terakhir, ia memasangkan satu dari dua sisi earphone itu ke telingaku.

“…Ku mencari-cari// teman yang sejati// untuk menemani// perjuangan ini…

Ia kembali tersenyum ke arahku. Aku ikut tersenyum. Berusaha menikmati lagu yang telah ‘menyatukan’ kami dalam cinta-Nya. Meski aku sendiri berusaha siap siaga mengantisipasi setiap kemungkinan terburuk yang akan kami hadapi. Aku melirik ke arah kernet. Ia memejamkan matanya. Udara pagi sepertinya membuatnya mengantuk.

Aku merasakan sopir memperlambat laju bis. Kernet bis yang tadinya memejamkan matanya bangun. Ia membuka pintu bis di bagian belakang. Seorang perempuan setengah baya bersama dua anaknya yang masih balita naik. Seorang bocah laki-laki dan seorang perempuan. Ia mencari set kursi kosong dan nyaman untuk diduduki. Bunga ikut melirik ke arah perempuan dengan dua anaknya itu. Ia menebar senyum. Bunga memang selalu begitu. Selalu tersenyum saat berjumpa dengan orang lain. Meski asing baginya. Perempuan itu akhirnya memilih duduk di dekat kami. Di set kursi yang agak ke depan. Sekelompok pemuda tadi duduk di belakang kami. Pada set kiri bis. Kami di set kanan. Aku merasa sedikit lega. Tapi aku malah mendengar ada gerak langkah kaki lainnya di belakang perempuan paruh baya tadi. Laju bis masih pelan. Aku memperhatikan ke sekeliling. Jalanan mulai sepi.

Aku merasakan ada tangan yang menyentuh pundakku. Tubuhku bergetar. Detak jantungku berpacu kencang. Bunga ikut melirik ke arah orang yang menyentuh pundakku. Ia mengecilkan volume MP3-nya.

“Maaf, Diwa, kan?” tanyanya. Ia bermuka masam. Dari bau tubuhnya, ia sepertinya belum mandi pagi.

“Kenapa?” Aku balik bertanya. Berusaha tenang. Bunga makin penasaran. Aku pernah bilang padanya tidak punya kenalan di kota ini. Tapi tiba-tiba ada yang menyapaku.

“Betulkan?” Ia balik bertanya. Mimik wajahnya meyakinkan. “Hei, kawan-kawan, betul, Diwa ini.” Ia memanggilnya kawan-kawannya. Aku makin bersiaga. Perempuan paruh baya tadi berusaha untuk tidak peduli. Meski ia sesekali melirik ke arah kami. Ia mendekap kedua anaknya. Bunga ikut menggeser posisi tubuhnya.

- Advertisement -

“Ada apa, ya?” Aku kembali bertanya kepada pemuda yang menyentuh pundakku tadi. Wajahku menyiratkan ketegangan. Aku bertanya layaknya orang asing yang bertanya kepada musuhnya.

“Hei, jangan begitu. Nggak usah tegang. Tenang.”

Aku melirik Bunga yang nampaknya juga telah siap dengan segala resiko. Apalagi setelah melihat muka masam pemuda tadi.

“Haaa. Haa. Ha! ” Ia kemudian malah tertawa sendiri. Kami masih belum berkomentar apa-apa. “Kenalin, Agus. Wartawan asal Jakarta.”

Aku sedikit lega. Bunga menghela nafas. Aku menyambut sodoran tangannya.  Meski aku belum tau darimana ia mengenalku. “Aku pernah melihat kamu dalam sebuah liputan di Aceh. Aku juga membaca beberapa tulisan kamu.” Pernyataannya itu menjawab semua rasa penasaranku. Dua temannya yang lain mendekati kami. Katanya mereka juga dari Jakarta. Mencari liputan menarik ke Ambon.

“Jadi, mau kemana ni berdua? Bulan madu atau apa ni?”

“Bulan madu kedua kali, ye! Yang pasti kami mau ke Masjid Wapauwe. Sambil nyelam minum air.”

“Wah, kebetulan. Kita-kita juga mau ke sana.”

Kami akhirnya bisa bercakap dengan santai. Aku melirik ke arah perempuan paruh baya tadi. Ia sepertinya ikut lega. Seorang bocah perempuan yang usianya lebih muda dari abangnya yang laki-laki kini tertidur dipangkuannya. Seorang bocah laki-laki duduk santai di set kursi kosong disamping ibunya. Ia mungkin trauma. “Api sekecil apapun kalau disulut terus tentu akan membesar. Harus ada yang menjinakkannya. Bukan malah menyiramnya dengan bensin.”

“Huuu! Masjid Wapauwe. Masjid di tengah-tengah pemukiman penduduk.” Aku melirik ke arah Bunga. Tiga wartawan asal Jakarta mulai sibuk memotret. Bunga sepertinya ikut tertarik.

“Bunga yang motret bang, ya?”

“Nggak salat sunnat dulu?” tanyaku.

“O, iya. Bunga lupa.” Ia tersenyum simpul ke arahku.

*

Negeri Kaitetu

Seorang penduduk lokal yang dituakan di Negeri Kaitetu membawa kami berkeliling masjid dan menjelaskan asal usulnya. Ia biasa dipanggil Arikulapessy. Ia sendiri menjelaskan tentang namanya yang diambil dari nama imam pertama masjid itu. Imam Muhammad Arikulapessy. Imam ini juga yang konon menulis Mushaf Al-Quran tertua di Indoensia yang ditulis pada tahun 1550 Masehi.

Bunga meraba-raba bagian dinding bangunan induk masjid berukuran 10×10 meter yang terbuat dari pelepah sagu itu. Ia mengintip ke celah-celah siku-siku penyambung konstruksi bangunan. “Nggak ada paku bang ya. Pasak kayunya juga nggak?!” Aku ikut mengamatinya. “Iya, kalau rumah Aceh minimal ada pasak kayunya pada sambungan kayu.” Aku ikut menimpali.

Ketiga wartawan asal Jakarta yang tadi sibuk memotret malah meminta ditunjukkan kamar mandi. “Wartawan!” Pikirku.

“Wartawan emang gitu bang, ya?” Bunga ikut bertanya padaku.

“Ibaratnya gini, wartawan itu biasa tidur di hotel bintang 5. Tapi, luar biasa kalau tidur di kaki 5. Biasa mandi pake shower. Tapi, luar biasa kalau mandi di kamar mandi yang disekat pelepah sagu kering. Haaa!

“Kayak abang, ya?”  Bunga menggelitik aku.

“Bagi wartawan, yang penting bisa dapat liputan menarik. Kebanggaannya bukan pada kemewahan fasilitas yang mereka terima. Tapi saat hasil kerja jurnalistik mereka dibaca, dilihat, dan ditonton publik. Terlebih yang berdampak langsung pada perbaikan hajat hidup orang banyak.” Aku mengetok-ngetok bagian fondasi masjid yang menurutku terbuat dari batu gunung dan telah dicat putih itu. Masjid yang berbentuk empat bujur sangkar ini sebenarnya juga punya bangunan tambahan berupa serambi yang berukuran 6,35×4,75 meter.

“Gimana? Udah kelar?” tanyaku pada tiga wartawan asal Jakarta. Rambut mereka terlihat masih basah. Seorang berambut agak gondrong. Ia yang terlihat paling acak-acakan dibandingkan dua temannya yang lain. Sepertinya ia spesialis fotografi. Itu terlihat dari kamera besar yang ditenteng di bahunya. Agus dan seorang temannya yang lain tergolong lebih rapi untuk ukuran seorang wartawan.

“Diwa, kami duluan, ya!”

“Oke.” Sahutku memberi hormat ala tentara. Tapi kemudian ia berbalik arah.

“Oh ya, besok pagi kami ke Wayame. Mau ikut? Kalau mau bareng langsung saja ke sana. Kita ada di sana sekitar jam 09.00.” tanyanya.

“Oke, boleh.” Jawabku.

“Oke, ya!”  Aku dan Agus membentuk salam komando.

Ketika tiga wartawan itu menjauh, Bunga bertanya padaku. “Ada apa bang di Wayame?”

“Wayame?

“Si abang…,”

“Ntar dech, kita cari tau apa itu Wayame.”

Ustadz Arikulapessy sudah meminta pamit sama kami. Katanya beliau ada urusan keluarga yang harus diselesaikan. Aku mengambil kamera dan memotret Bunga dengan latarbelakang Masjid Wapauwe.

“Bang, Bunga yang motret, ya?”

“Emang mau motret apaan?”

“Ya, motret abang lah.” Bunga berminat untuk belajar fotografi. Aku sendiri memang bukan fotografer yang cukup profesional. Tapi, sebagai wartawan, aku dituntut untuk memahami beberapa teknik fotografi.

Kami menghabiskan waktu hingga salat Dhuhur di sini. Kami juga berbincang-bincang dengan penduduk Negeri Kaitetu yang rumahnya tidak jauh dari masjid.

Ketika waktu salat Dhuhur tiba, aku melihat Bunga berdiri dalam satu saf bersama perempuan-perempuan Kaitetu. Pancaran warna-warna kulit hitam manis perempuan Kaitetu dan pancaran warna kecoklatan yang timbul dari pelepah sagu kering dan atap daun rumbia membuat pancaran kecantikan Bunga menjadi sangat alami.

Aku ingat kata-kata Bunga. “Kecantikan make up itu cepat membosankan. Kecantikan alami tak terbatas oleh waktu. Ia akan terbaharui dengan sendirinya. Ada dua hal yang membuat kecantikan alami itu timbul, alam dan do’a-do’a keikhlasan hidup yang sering kita panjatkan. Alam yang alami akan membuat kita rileks. Do’a-do’a keikhlasan akan membuat kita tidak terbebani menjalani kehidupan ini.”

Sorenya kami jalan-jalan ke Batumeja. Kata karyawan di hotel kami menginap, di sini banyak dijajakan buah-buahan asal dusun di daerah pegunungan Ambon. Penjualnya asli perempuan-perempuan dusun “hitam manis” yang duduk berjualan di pinggir jalan. Mereka menjajakan buah durian hingga buah khas asal Ambon. Gandaria.

“Bang, beli dong!” Bunga sudah menunduk. Memilih-milih buah gandaria. “Bu, boleh liat-liat dulu, ya.”

“Boleh. Adek ini bukan orang Ambon, ya?” tanya ibu-ibu yang menjual buah gandaria.

“Iya, boleh dicoba dulu nggak, bu? Bunga balik bertanya.

Ibu penjual buah gandaria memilih sebuah buah gandaria yang sudah kuning. Ia memilih yang telah matang dan menyerahkannya ke Bunga. Saat Bunga mengambil buah itu, ibu tadi kembali bertanya, “Nggak takut ke Ambon?”

Bunga malah melirik ke arahku. “Kami orang Aceh, bu,” jawabku.

“Aceh?!” Ibu tadi sepertinya tidak percaya. Ia memandang kami dengan seksama.

“Ketakutan itu sering muncul saat kita selalu berburuk sangka kepada orang lain. Jadi, kalau kita punya niat baik, nggak perlu takut kan kalau ke Ambon atau Aceh? Betul nggak, bu?”

“Iya, iya. Ibu sepakat.” Ia seperti menyelami apa yang pernah ia rasakan.

Ucapan ini memang seakan mudah. Tapi terkadang sulit untuk diimplementasikan. Aku sendiri selalu mensugesti orang dengan kata-kata itu agar bisa terus belajar untuk tidak berprasangka buruk. Sebuah ‘pekerjaan rumah’ yang tidak mudah untuk seorang penderita Anxietas sepertiku.

Bunga masih mencicip buah gandaria. “Rasanya kecut manis, ya, bu!” Bunga ikut memberikan ekspresi di wajahnya. Ia sepertinya ingin mengalihkan perhatian ibu tadi.

“O, iya. Biasanya dibuat rujak, dek. Ada juga campuran sambal gandarianya.” Bunga berhasil mengalihkan topik pembicaraan. Ibu itu tak pelit berbagi beberapa resep masakan Ambon kepada Bunga. Ia menyimaknya dengan serius.

Aku lalu mencoba bertanya tentang Wayame. Ibu itu menjelaskannya dengan bersemangat. Menurutnya, indentitas orang Ambon itu ada pada warga Wayame.

“Kenapa begitu, bu?” tanyaku.

“Cobalah datang ke sana.” Ibu itu memberi petunjuk tentang Wayame.

“Jauh nggak, bu?” tanyaku. Tanpa bercerita kalau kami sudah janjian untuk ke sana besok.

“Sebenarnya sich nggak. Adek naik pesawat kemari kan?”

“Iya,” jawabku.

“Nah, kalau kondisi normal, dari Desa Laha, tampat Bandara itu, hanya butuhkan waktu 15 menit. Tapi, kalau keadaan tidak normal, dari Ambon hanya bisa dijangkau dengan perahu cepat.”

Hari sudah beranjak Magrib. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Bunga lupa membawa mukena. Ia pamitan kepada ibu penjual gandaria tadi. Aku hanya tersenyum ke arahnya.

*

WAYAME

“Huuu! Adeeem….” Bunga merentangkan kedua tangannya begitu tiba di dermaga. Kamera SLR menggelantung di lehernya. Semalam kami telah berdiskusi, Bunga yang pegang kameranya. Bunga beralasan, perempuan lebih ‘bernaluri’ dan jauh dari prasangka orang. Apalagi, kami juga belum tau apa-apa tentang Wayame.

*

Sekilas, secara fisik kami melihat Wayame tak berbeda jauh dengan desa-desa lain di Pulau Ambon. Wayame merupakan desa pelabuhan yang berbukit. Dari peta yang kami bawa disebutkan, Wayame memiliki luas 33.158 meter persegi dan dihuni sekitar 3.100 penduduk. Jam pukul 08.49. Kami menunggu tiga wartawan asal Jakarta di dermaga. Bunga memanfaatkan waktu dengan memotret berbagai objek yang dianggapnya menarik. Kami baru menunggu 10 menit saat mereka datang.

“Hei, Diwa!” seru Agus.

“Hei!” Aku menyalami mereka satu persatu. Bunga hanya mengangguk ke arah mereka. Menyatukan kedua telapak tangannya.

“Gimana, udah siap?” tanya Agus. Membuat aku dan Bunga penasaran.

“Sebenarnya  apa sich yang unik dari Wayame? Kemarin ibu-ibu yang jualan gandaria juga menyuruh kami berkunjung ke Wayame.” Aku balik bertanya pada Agus.

Agus belum sempat menjawab. Seseorang menyapa kami. “Adek-adek ini wartawan, ya?”

“Kok tau, pak?” Agus balik bertanya. Padahal, tak seorangpun dari kami mengenakan indentitas wartawan.

“Orang penampilan kalian seperti wartawan.”

“Ahmad.” Ia menyodorkan tangannya. Menyapa dengan ramah. Kami menyalaminya satu per satu. Dari penampilannya bisa ditebak ia seorang pemuka umat muslim. Padahal, dari kejauhan kami melihat sebuah gereja berdiri di sini. Di Wayame.

“Banyak wartawan luar daerah yang berkunjung kemari,” katanya, “Ayo! Biar saya antar jalan-jalan.” Kami tentu saja tidak menolak. Aku belum ingin bertanya apa-apa tentang Wayame. Lebih baik aku melihat dulu Wayame secara langsung dan kemudian bertanya hal-hal yang aku anggap cukup agar kami bisa belajar untuk bijak di sini.

Kami berkeliling ke setiap dusun di Wayame. Kami telah melihat dua gereja berdiri di sini. Tapi aku belum melihat masjid. Kami terus melangkah secara perlahan. Setiap penduduk yang kami temui menebarkan senyuman ke arah kami. Ini cukup bagi Bunga dan tiga wartawan asal Jakarta untuk memotret tanpa ‘hijab’. Secara sayup-sayup aku mendengar shalawat mengalun dengan begitu syahdu. Awalnya aku berpikir ini berasal dari rekaman tape recorder yang mungkin diputar dari rumah seorang penduduk yang beragama Islam. Pak Ahmad belum menjelaskan apa-apa. Kami juga belum bertanya apapun. Aku berusaha merekam setiap detail Wayame di kepalaku, agar tulisan yang aku tulis nantinya bisa lebih menarik.

Dugaanku ternyata salah. Aku melihat sebuah masjid berdiri di sini. Di Wayame. Suara shalawat itu berasal dari pengajian ibu-ibu Wayame. Kami akhirnya menuju ke masjid itu. Pak Ahmad sepertinya bisa menebak kalau kami juga muslim. Apalagi Bunga berjilbab.

“Bang, Bunga gabung ke pengajian ibu-ibu itu aja, ya?”

“Boleh.” Bunga menuju ke tempat wudhu khusus perempuan. Ia menyerahkan kamera yang sedari tadi dipegangnya kepadaku. Aku sempat melihat beberapa foto yang diambil Bunga. Aku tersenyum melihatnya. Bunga sepertinya memang punya naluri fotografi. Aku melihat gambaran keramah-tamahan penduduk Wayame. Anak-anak yang larut dalam keceriaannya. Perempuan-perempuan “hitam manis” yang menebar senyuman dan pemuda-pemuda berpeci dan tak berpeci yang saling bersenda gurau. Membina kehangatan.

“Keramahan cinta

Aku memperhatikan Bunga yang cepat akrab dengan perempuan-perempuan Wayame.

“Assalamu’alaikum, Ustadz Ahmad.” Seorang gadis Wayame yang terlambat datang ke pengajian menyapa Pak Ahmad dengan sebutan ustadz. Kami baru sadar kalau Pak Ahmad seorang pemuka agama di Wayame. Mungkin karena faktor itu juga kami bisa berjalan-jalan di Wayame dengan nyaman.

“Bagaimana?” tanya Ustadz Ahmad.

Aku bisa merasakan apa dimaksud Ustadz Ahmad. Ia pasti meminta tanggapan kami tentang kerukunan umat beragama di Wayame.

Kami belum memberikan tanggapan apa-apa, tapi Ustadz Ahmad sudah menanggapinya sendiri. “Wayame adalah salah satu daerah yang tidak tersentuh pertikaian akibat provokasi para mafia konflik. Meski berada di pusat pertikaian dan pernah diprovokasi untuk saling bertikai.”

Ia lalu bercerita pernah ada upaya provokasi dari para mafia konflik dengan meletakkan bom Molotov  di pintu depan rumah seorang warga. Tapi, upaya prvokasi itu tetap tidak berhasil.

“Kami mengantisipasinya dengan cepat dan menggelar pertemuan dengan para tokoh masyarakat dan pemuda. Berkomitmen untuk saling menjaga dan tidak berburuk sangka dan melakukan ronda keamanan secara bersama-sama.”

“Huuu.” Ia menghela nafas. Aku mulai mengerti sekarang kenapa ibu-ibu penjual gandaria kemarin menyebut Wayame sebagai bagian dari identitas warga Ambon yang sebenarnya. Aku dan tiga wartawan asal Jakarta lainnya saling bergantian bertanya berbagai hal lainnya tentang Wayame. Ustadz Ahmad menawabnya dengan gamblang. Tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sesekali aku melirik ke arah Bunga. Pengajian telah usai. Bunga masih duduk diantara perempuan-perempuan Wayame. Mereka sepertinya masih asyik bercerita.

Tarakhir aku bertanya kepada Ustadz Ahmad, hal apa yang paling berpengaruh yang membuat warga Wayame bisa rukun seperti ini.

Ustadz Ahmad sejenak berpikir. “Pertikaian itu hanya mendatangkan penderitaan. Kami orang saudara. Sejak dahulu kala moyang kami mengajarkan kami hidup rukun.” Kali ini logat Ambonnya mulai keluar. “Kami tidak memaksakan, apalagi sampai memerangi, meski ada diantara saudara segaris keturunan yang berbeda keyakinan,” lanjutnya.

Aku teringat Abdul Muthaleb. Paman Nabi yang hingga meninggal belum beragama Islam. Tapi keduanya tetap saling memotivasi. Menjaga satu sama lain dalam kedamaian. Karena itu pula, kenapa Nabi begitu sedih ketika pamannya itu meninggal.

*

NAMALATU BEACH

Aku dan Bunga ada di sini sekarang. Telah seminggu kami di Ambon. Kami sudah mengunjungi Monumen Thomas Matulessy, “Bingung kan siapa itu?! Coba aku sebut Pattimura. Aku yakin kamu tau itu. Ya, itu nama asli dari pahlawan nasional asal Maluku. Pattimura.” Monumennya dengan posisi Pattimura siap menyerang musuh yang hendak menguasai Maluku itu berada di Lapangan Merdeka Ambon. Kami juga telah ke pantai Natsepa dan mencicipi rujak di sana.

“Kayak kita dulu di Pantai Ulee Lheue Banda Aceh ya, bang?” Bunga merentangkan kedua tangannya. “Huuu….”

“Berarti kita bicara masa depan lagi dong?” Aku tersenyum ke arah Bunga.

“Masa depan?!” Bunga tersenyum simpul. Ikut melirik ke arahku. Rasanya aku bisa menebak apa yang tersembunyi di balik kata-kata “Masa depan?!” yang diucapkannya.

“Ada udang dibalik bakwan ni!” Aku memperhatikan Bunga. Ia menggigit bibirnya. Masih tersenyum simpul. Wajahnya menunduk. Sesaat kemudian ia berjongkok dan menulis kata-kata “Mahabbatullah” dengan telunjuk jarinya di atas pasir pantai.

Bunga kembali bangun. “Ingat Bangkok?” tanyaku.

“Iya. Perjalanan hidup yang tak terlupakan.”

“Dulu, waktu abang tau Bunga ditahan Polisi Kerajaan Thailand, abang berdo’a,

“Ya Allah,
bila cinta kami masih karena-Mu,
…, dan
bila cinta kami masih bisa memberi mujahid-mujahid baru di jalan-Mu,
berikanlah kepada kami petunjuk-Mu,
persatukanlah kami kembali dengan cinta-Mu.

 

“Saat itu abang benar-benar seperti orang yang kehiangan cita-cita hidup.”

“Bunga juga berdo’a seperti itu. Tapi, sekarang Allah telah memberikan petunjuknya. Jadi, itu cita-cita yang harus kita tunaikan, bang!”

“Abang rasa juga begitu. Pelajaran dan pengalaman hidup yang telah kita jalani saat ini jangan sampai membuat kita hanya berhenti sampai  pada titik ini.”

“Apa do’a itu seperti nazar kita?”

“Rasanya ia.”

“Berarti harus kita tunaikan.”

“Apa Bunga siap?”

“Bunga takut.”

“Kenapa?”

“Takut tidak bahagia. Takut kita akan selalu dalam masalah.”  Aku merasakan percakapan terbalik seperti saat di Pantai Ulee Lheue akan terjadi di sini. Dulu Bunga yang menguatkanku. Tapi sekarang aku yang sepertinya harus menguatkannya. Perasaan seorang gadis yang telah yatim piatu. Aku bisa memahami itu.

“Ingat Risalah An-Nur Said Nursi?”

“Iya.”

“…Jika engkau tersenyum di hadapan musibah,
musibah itu akan menjadi layu,
di bawah sinaran kebenaran,
ketika itulah dunia akan tersenyum,
yang tampak menyiratkan keyakinan,
lahir dengan pancaran keyakinan,
senyuman yang muncul dengan rahasia keyakinan.”

 

Aku dan Bunga mengucapkannya secara bersamaan. Dengan wajah yang tegak. Dengan segenap keyakinan yang tertanam di dada kami. Seperti orang sedang berikrar.

“Kebahagiaan hakiki itu hanya bisa didapat dengan petunjuk dari Allah SWT.” Itu kata-kata Al-Farabi. Failasuf Islam.

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Sepertinya Allah memberikan petunjuk kepada kita untuk tidak lari atas realitas kehidupan yang melingkari kita saat ini.”

“Termasuk Ambon?”

“Jalan ke depan hanya Allah yang tau. Kita sebagai hamba-Nya diwajibkan berusaha kan?”

“Bunga sangat rindu kita bisa melahirkan mujahid-mujahid baru di jalan-Nya. Bersatu dan berjuang dalam cinta di jalan-Nya.”

“Abang akan tetap menjadi wartawan. Menulis. Hadir dan berjihad  dimana Tuhan mentakdirkan kita untuk hadir di sana.”

“Bagaimana dengan penyakit (Anxietas) abang?” Aku mendekatkan wajahku ke wajah Bunga. Keningku dan keningnya kini menyatu. Aku mengenggam erat jemarinya.  Saling berbagi energi positif. Bunga tersenyum. Aku kembali merasakan suasana Bangkok. Semangat yang sama ketika di Singapura. Di atas tulisan pasir “Mahabbatullah”. Aku ikut tersenyum ke arahnya.

“Bunga kerinduanku telah kembali.” [*/Teungkumalemi]

Daftar Isi

Baca!

Kenali Judi Online Modus...

JAKARTA, Dariaceh.com - Modus judi online (Judol) kini telah merambah hingga ke berbagai platform....

Enam Strategi “All Eyes...

YOGYAKARTA, Dariacehcom - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memaparkan enam strategi Indonesia dalam...

Kumpulan Video Aksi Pemain...

Calvin Verdonk, 27, putra berdarah Meulaboh dari garis keturunan Ayahnya.

You may also like