Oleh Frial Ramadhan Supratman
Dikutip dari artikel book review berjudul: Surat Kabar Basiret: Melihat Perang Aceh (1873-1904) dari Istanbul dan Kairo
Perang Aceh (1873-1904), salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Indonesia, tidak hanya mempengaruhi nasib Aceh, tetapi juga menarik perhatian dunia internasional, termasuk negara-negara besar di Timur Tengah. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana surat kabar Basiret, yang diterbitkan di Istanbul dan Kairo, memberitakan Perang Aceh dengan perspektif Pan-Islamisme, serta dampaknya terhadap persepsi global mengenai perjuangan Aceh melawan kolonialisme Belanda.
Aceh: Pusat Perdagangan dan Peran Global dalam Sejarah Samudera Hindia
Aceh, yang terletak di ujung barat Pulau Sumatra, telah memainkan peran vital dalam sejarah global sejak abad ke-13. Dengan penguasaan atas perdagangan lada, rempah-rempah, dan komoditas penting lainnya, Aceh menjadi salah satu kekuatan besar di Samudera Hindia. Pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Aceh mencapai puncaknya sebagai pusat perdagangan utama yang menghubungkan pedagang dari Arab, Persia, India, Cina, dan Eropa. Posisi strategis Aceh menjadikannya bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga pusat diplomasi internasional yang memengaruhi hubungan dengan negara-negara besar seperti Inggris, Prancis, dan Kesultanan Ottoman.
Dinamika Politik Dunia pada Abad ke-19: Peran Kesultanan Ottoman
Pada abad ke-19, dunia mengalami perubahan besar dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru, seperti Inggris, Prancis, Rusia, dan Jerman. Di tengah dinamika ini, Kesultanan Ottoman berusaha mempertahankan pengaruhnya. Salah satu langkah besar adalah penerapan Deklarasi Gülhane pada 1839 untuk mendapatkan dukungan Eropa dalam menghadapi ancaman Rusia. Sementara itu, di Aceh, situasi politik semakin tegang ketika Belanda melanggar perjanjian internasional dengan Inggris dan memasukkan Aceh ke dalam koloninya pada 1871, yang memicu invasi Belanda ke wilayah tersebut.
Perang Aceh: Konflik Global dengan Dimensi Agama dan Diplomasi
Perang Aceh tidak hanya menjadi perang lokal, tetapi juga beresonansi dalam konteks global, terutama bagi dunia Islam. Perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda dilihat sebagai bagian dari “Perang Suci”, dengan Islam sebagai pendorong utama perlawanan. Para pahlawan Aceh, seperti Panglima Polem, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dien, menjadi simbol perjuangan nasional. Di sisi lain, akademisi seperti Ibrahim Alfian dan Anthony Reid menyoroti bahwa perang ini juga dipengaruhi oleh faktor diplomasi internasional, dengan Aceh berusaha mempertahankan independensinya dari kolonialisme Belanda.
Surat Kabar Basiret: Membawa Narasi Perang Aceh ke Dunia Islam
Pada masa ini, media memainkan peran penting dalam membentuk opini publik global. Surat kabar Basiret, yang didirikan di Istanbul pada 1870, menjadi salah satu media utama yang memberitakan Perang Aceh. Dikenal sebagai pendukung Pan-Islamisme, Basiret menganggap Aceh sebagai bagian dari dunia Islam yang harus dilindungi dari ancaman kolonialisme Barat. Dalam edisi 27 Mei 1873, Basiret menegaskan bahwa orang Aceh adalah bagian dari negara Ottoman, merujuk pada penggunaan simbol Bulan Sabit dan Bintang oleh Kesultanan Aceh, yang memiliki hubungan erat dengan Ottoman sejak abad ke-16.
Namun, meskipun Basiret menginginkan dukungan politik dan militer untuk Aceh, Kesultanan Ottoman tidak dapat memberikan bantuan langsung karena harus menjaga hubungan baik dengan negara-negara Barat yang berpengaruh.
Kesimpulan: Perang Aceh dalam Konteks Sejarah Global
Buku karya Adem Efe, Mehmet Özay, dan Ekrem Saltık menambahkan perspektif baru dalam studi Perang Aceh dengan mengeksplorasi peran surat kabar Basiret dan pendekatan Pan-Islamisme dalam memandang perjuangan Aceh. Mereka menekankan bahwa Perang Aceh bukanlah hanya konflik lokal, melainkan bagian dari sejarah besar yang melibatkan kekuatan internasional dan hubungan antarnegara. Aceh, dengan latar belakang sejarahnya yang kaya, tetap menjadi simbol penting dalam perjuangan melawan kolonialisme dan pengaruh global.
Referensi
- Alfian, Ibrahim. Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987.
- Reid, Anthony. The Contest of North Sumatra: Atjeh, The Netherlands and Britain 1858-1898. Kuala Lumpur: University of Malaya and Oxford University Press, 1969.
- Karpat, Kemal. The Politicization of Islam: Reconstructing Identity, State, Faith, and Community in the Late Ottoman State. New York: Oxford University Press, 2001.
